Dongeng Si Cancil

Dongeng si Kancil dan Pemburu

kancil1_1

Semalem, seperti biasa gue nelepon Ida jam 11.
“Akunya lagi kesyell deh…” kata Ida
“Kesel kenapa?”
“Ngga tau…”
-Wah gawat nih.-
“Masa ngga tau sebabnya?”
“Pokoknya lagi kesel!”
“Hmm mau dihibur ngga?”
“Dihibur gimana?”
“Didongengin. Atau mau dinyanyiin?”
“Udah pernah dinyanyiin. Lagu pilihan kamu enggak banget. Dongeng apa?”
“Kancil dan Pemburu. Mau?”
“Pasti garing.”
“Lho paling enggak kan kamu bisa menghargai effortku lah…”
“Ya udah deh sana dongeng. Awas kalo bikin tambah kesel.”
“Ya deh, diusahain ya …
Pada suatu hari, si Kancil sedang berjalan di tepi sungai
[dengan nada kritis]”Kenapa sih kalo dongeng depannya harus pake pada suatu hari ?”
“Sebab kalo pada beberapa hari nanti ceritanya kepanjangan sayangku cinta…”
“Iiih…”
“Lagian nanya yang enggak2”
“Ya udah terusin.”
“Apanya?”
“Dongengnya TADIIII…” [mulai emosi]
“Ya udah diterusin nih…” [sambil menahan perasaan]

si Kancil berjalan di tepi sungai dengan riang gembira. Tiba2, ia terpleset dan nyemplung ke kali. Kancil sangat bingung dan panik, krn dia tidak bisa berenang.

“Kayak kamu”
“Iya kayak aku.

Kancil berteriak-teriak, toloooong tolooooongggg Kebetulan, di dekat situ ada seekor Burung yang mendengar teriakan Kancil. Burung langsung terbang hendak menolong. Diambilnya sehelai daun dengan paruhnya, dan
dijatuhkan di dekat tempat Kancil tenggelam

serulingkancil3

“Tunggu deh, bukannya di cerita aslinya yang tenggelam itu SEMUT?”
“Ya sekali2 Kancil emang kenapa sih, semut melulu bosen.”
“Lagian daunnya segede apa coba… tauk ah . Ya udah sana lanjutin…”
“Lanjutin ya.

Kancil segera naik ke atas daun tersebut, dan kemudian Burung menjepit daun dengan paruhnya, membawa daun dengan Kancil di atasnya terbang ke pinggir sungai

“…”
“Halo?”
“Iya udah lanjutin. Ya Allah, Ya Robbi dongengnya…”
“Ya kan aku sedang mencoba menghibur…”
“Iya, iya, lanjutin…”

“Nah, setelah Kancil selamat sampai di pinggir, Kancil mengucapkan terima kasih kepada Burung.
“‘Burung’, kata Kancil, ‘Terima kasih ya telah menyelamatkan nyawaku. Aku
bersumpah akan membalas budi kepadamu, karena aku telah berhutang nyawa.’
‘ Ah tidak perlu, Kancil’, kata Burung, ‘Bukankah ini telah menjadi kewajiban kita sebagai sesama binatang…’
Tapi Kancil tetap berniat untuk membalas budi kepada Burung.
Beberapa waktu kemudian, saat Kancil sedang berjalan-jalan di hutan, dilihatnya seorang pemburu sedang membidikkan senapannya ke arah burung.
‘Wah celaka ‘, kata Kancil, Burung mau ditembak sama pemburu. Aku harus berbuat sesuatu.
Maka pergilah Kancil ke sungai.

“Lho, kok ke sungai lagi? Ngapain? ”
” Udah dengerin aja dulu.

Di sungai Kancil memanggil para buaya yang sedang berjemur, ‘Buayaaa…. buayaaaaa… cepat berkumpul..!’
‘Ada apa wahai Kancil?’ kata para buaya
‘Cepat berkumpul! Ada pemburu hendak menembak Burung. Kita harus menolongnya, sebagai wujud kerukunan sesama binatang.’
Maka bergeraklah para buaya naik dari sungai, dan berbondong-bondong
mengikuti Kancil menuju tempat pemburu sedang membidikkan senapannya.
Pemburu sangat kaget melihat ratusan buaya mendekat ke arahnya. Tanpa pikir panjang, dialihkannya bidikan senapan ke arah para buaya. Ditembakinya seluruh buaya tersebut hingga mati semuanya. Setelah para buaya mati, pemburu mengambil kulitnya, dan membawanya ke kota.
ITULAH ASAL-USUL TOKO TAS ELIZABETH, BANDUNG.

Sekian.
Gimana dongengnya, menghibur nggak?”
“Dongeng paling malesin yang pernah aku denger.”
“Tapi, keselnya jadi ilang nggak?”
“Mayan deh.”

Dongeng Baru: Kancil “Cerdik” dan Kerbau Baik

Fajar mulai menjelang, Matahari bangun menampakkan sinar, dan merah shubuh pun mulai terlihat. Kabut putih mulai menipis, Dingin mulai lari, Ayam berkokok bersahutan, dan Adzan subuh pun berkumandang di berbagai penjuru negeri.

Sementara itu di sebuah semak belukar, dekat perkebunan penduduk desa, sang Kancil masih malas untuk bangun pagi. Dia baru terjaga dari tidurnya.

“Hmmmh, hari ini saya harus pergi sekolah. Belajar bermacam ilmu dan pengetahuan. Duh, masih males…,” gumam Kancil lalu beranjak dari tempat tidurnya. Kemudian dia dengan cepat menuju sungai kecil dekat rumahnya untuk segera mandi. Tak lupa setelah beres mandi dan sholat subuh dia membersihkan tempat tidurnya. (Kayak lagu bangun tidur saja… ) Sementara ibu Kancil sudah siap dengan sarapan pagi, sepiring ketimun kesukaan anaknya sang Kancil-unyil. Ya, Kancil-unyil nama lengkap anaknya.

“Assalamu’alaikum,” terdengar salam dari Kerbau-keribo, teman Kancil-unyil, di depan rumah.

“Wa’alaikum salam,” jawab ibu Kancil.

“Hai Kerbau, mari masuk dulu. Si Kancil sedang sarapan tuh, ayo ikutan…” ajak ibu Kancil kepada Kerbau.

“Makasih Bu, saya sudah sarapan sekeranjang besar rumput segar, tadi di rumah,” jawab Kerbau.

“Kerbau, sebentar ya saya ambil tas sekolah saya dulu,” ucap Kancil yang sudah beres sarapan.

Kemudian dua sahabat karib itu pun berangkat sekolah, berjalan kaki dengan riangnya. Melintas hutan, menyebrang sungai, melewati sawah, ladang hingga sampai di sekolah mereka.

Di sekolah mereka bertemu teman-teman lainnya. Ada Monyet, Kura-kura, Kucing, Tikus, Harimau, Siput, dan Buaya. Mereka semua belajar dalam kelas yang sama. Setelah waktunya tiba, belajar pun dimulai. Mereka diajari oleh Bu Guru mereka yang pandai dan bijak, Bu Gajah namanya.

Pulang sekolah, Kancil dan Kerbau pun pulang bersama. Di kala Mentari sedang terik-teriknya, rupanya sang Kancil kelelahan dan merasa lapar di perjalanan. Kerbau pun sudah mulai kepanasan.

“Kita istirahat dulu yuk di situ tuh,” ajak Kancil pada Kerbau sambil menunjuk tempat rindang dekat pematang sawah tempat mereka jalan kaki. Kerbau pun setuju.

“Cil, saya juga mau ngadem dulu ya di kubangan itu tuh,” kata Kerbau terus menuju kubangan lumpur dekat Kancil istirahat.

Sambil istirahat di bawah pohon rindang, rasa lapar makin menjadi. Ingin rasanya dia sampai ke rumah, tapi jarak masih jauh. Diapun membayangkan ketimun segar makanan kesukaannya. Terus kemudian berpikir, bagaimana caranya dia mendapatkan ketimun tersebut. Pikiran “cerdik” tapi nakal mulai merasuk. Sang Kancil berpikir bagaimana meminta bantuan temannya sang Kerbau untuk mengambil ketimun milik Pak Tani dekat tempatnya istirahat.

Sementara itu, sang Kerbau sambil berendam di kubangan air dan bermanja-manja membasuh tubuhnya, dia berpikir mencari pemecahan soal PR yang diberikan oleh Bu Gajah tadi pagi. Soalnya itu seperti berikut ini.

Saya mempunyai sepuluh buah ketimun. Kemudian akan membaginya dalam dua bagian. Banyaknya tiap bagian saya kalikan dengan dirinya sendiri, dan ketika saya tambahkan hasil kedua perkalian tersebut, jumlahnya adalah lima puluh delapan. Berapa jumlah masing-masing bagian tersebut?

Kerbau berpikir keras berusaha memecahkan masalah tersebut. Karena dia ingat pesan ibunya, bahwa dia harus belajar dengan rajin agar jadi orang pandai yang berguna kelak. Tapi, setelah beberapa lama berendam dan berpikir, pemecahan soal tersebut tak kunjung ditemukan.

“Cil, PR dari Bu Gajah tadi kamu bisa engga?” tanya Kerbau, beranjak dari kubangan, dan menuju pada sang Kancil yang sedang istirahat. Kancil jawab, “Eh iya, saya belum tahu. Saya belum mikirin PR itu. Saya mikir yang lain.”

“Dari tadi saya mikir, belum bisa juga. Mungkin kalau kamu yang mikir, bisa dengan mudah soal tersebut dijawab. Itukan soal tentang Ketimun, makanan kesukaan kamu,” kata Kerbau pada Kancil.

“Ngomong-ngomong, saya lapar nih, yuk kita ngambil ketimun Pak Tani di sana tuh, ” ajak Kancil.

“Gemana caranya Cil?”

“Ah, gampang saja. Gini caranya…” kata Kancil kemudian membisik ke telinga Kerbau.

Kerbau berpikir berulang kali. Mulanya dia akan tergoda. Dan akan menuruti perkataan kancil. Tapi kemudian dia ingat pesan ibunya, bahwa dia tidak boleh nakal. Tidak boleh mencuri.

“Ngambil? Ga mau ah kalau ga bilang dulu ke Pak Tani! Kalau ngambil tanpa bilang-bilang, itu namanya mencuri, ga mau ah,” tolak Kerbau dengan tegas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: