Kisah Si Pencemburu dan Syekh yang Dicemburuinya


‘Ketahuilah wahai tuan Jin, bahwa dahulu ada seorang pria yang sangat dicemburui oleh tetangganya karena kesuksesannya. Tapi semakin ia cemburu, Alloh semakin baik pada tetangganya. Ia semakin sukses. Tapi ketika tetangganya itu mengetahui kecemburuan tetangganya dan keinginannya untuk menghancurkan dirinya, ia memutuskan untuk pindah dan membangun sebuah tempat ibadah di pinggir sebuah sumur di kawasan yang terpencil. Di sana ia menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah kepada Alloh.

Banyak sekali Fakir yang berkumpul di tempat ibadahnya dan ia sangat dihormati. Mereka percaya akan kesuciannya dan mereka memberi gelar syeikh kepadanya. Ketenarannya akhirnya sampai di telinga si Pencemburu. Ia buru-buru menaiki kudanya dan berangkat untuk mengunjunginya. Di sana ia disambut dengan sangat ramah.

“Aku kemari dengan membawa berita yang akan memberimu kebaikan di akhirat kelak dan aku akan memperoleh pahala karena menyampaikannya padamu,” kata Pencemburu.

“Subhanalloh, semoga Alloh membalas kebaikanmu,” kata Syeikh.

“Suruhlah para Fakir itu masuk ke kamarnya! Karena berita ini sangat rahasia dan tidak boleh ada yang mendengarnya selain kita,” kata Pencemburu.

Setelah para Fakir masuk ke dalam kamar mereka, si Pencemburu berkata; “Mari kita membicarakannya sambil berjalan-jalan.”

Lalu mereka pun berjalan hingga tiba di sumur yang terpencil dan tiba-tiba si Pencemburu mendorong Syeikh hingga jatuh ke dalam sumur. Menyangka tetangganya telah mati, dengan puas si Pencemburu pulang ke rumahnya.

Ternyata sumur itu dihuni oleh beberapa Jin. Mereka menangkap tubuh Syeikh dan mendudukkannya di atas sebuah batu besar.
“Tahukah kau siapa dia?” tanya salah satu jin kepada temannya.
“Kami tidak tahu,” sahut temannya.
“Dia adalah seorang pria yang karena ada seseorang yang mencemburui kesuksesannya, memutuskan untuk pergi dan menetap di tempat ini. Dialah yang selalu menghibur kita dengan bacaan zikirnya dan lantunan ayat-ayat Al-Quran. Ketika si Pencemburu mengetahui keberadaannya, ia datang kemari dan melemparkannya ke dalam sumur ini. Ketahuilah, bahwa hari ini ketenarannya telah sampai di telinga Sultan dan ia akan mengunjunginya besok pagi untuk urusan yang menyangkut kesehatan puterinya.” Kata Jin yang pertama.
“Memang kenapakah puteri Sultan itu?” tanya temannya.
“Ia gila karena Maimun anaknya Dedemit, jatuh cinta padanya. Sebenarnya obatnya sangat gampang,” kata Jin pertama.
“Apa itu?” tanya yang lain.
“Di dalam rumah ibadah itu ada seekor kucing hitam dengan sedikit bulu putih di ujung ekornya. Kalau tujuh helai bulunya dicabut dan dipakai untuk mengasapi puteri raja itu, maka setan itu akan lari dan puteri akan sembuh,” kat jin pertama.

Esoknya para Fakir melihat Syeikh melayang keluar dari dalam sumur. Mereka semakin yakin akan kesucian syeikh mereka.
Sesampainya di tempat ibadahnya Syeik segera mencari kucing hitamnya dan mencabut 7 helai bulu putih di ujung ekornya. Menyimpannya dalam sehelai kain. Tak berapa lama rombongan Sultan datang. Syeikh menyambut dan mempersilahkan mereka masuk.
“Oh Tuan Sultan. Apakah kedatanganmu kemari untuk menanyakan kesanggupanku menyembuhkan putri anda?” tanya Syeikh.
“Ya Syeikh yang suci,” jawab Sultan kagum.
“Bawalah ia kemari. Atas nama Alloh yang Maha Menyembuhkan, aku yakin ia akan sembuh dalam sekejap,” kata Syeikh.
Ketika Putri telah berada di hadapannya, Syeikh segera membakar ketujuh bulu kucing tersebut dan mengasapi hidung puteri. Terdengar jeritan jin yang kesakitan. Jin itu melarikan diri dan detik itu juga sembuhlah sang Puteri.

Puteri yang telah pulih kesadarannya segera menutupi wajahnya dengan cadar dan bertanya pada ayahnya.
“Ada apa gerangan? Dan dimanakah aku berada?” tanyanya.
“Jangan khawatir anakku!” ujar Sultan dengan suka cita.
Sultan berpaling pada pengikutnya dan bertanya, “Hadiah apakah yang paling pantas aku berikan kepada Syeikh ini atas jasanya?”
“Nikahkanlah ia dengan puteri!” jawab para Tetua istana.
Maka Sultan menikahkan mereka berdua. Ketika akhirnya Sultan mangkat, Syeikh diangkat untuk menggantikannya.

Suatu hari saat Syeikh melakukan kunjungan dengan para prajuritnya, dilihatnya si Pencemburu datang menghampirinya. Syeikh dengan sopan memintanya untuk ikut duduk di keretanya. Ia membawanya ke istana dan menjamunya dengan hormat. Lalu ia memberikan baju-baju bagus dan berkantung-kantung uang emas kepada si Pencemburu kemudian mengantarkannya pulang dengan selamat.
Perhatikanlah wahai Jin! Bagaimana Syeikh itu memaafkan orang yang telah mencelakakannya. Ia tidak membalas dendam sedikit pun,’ kataku.

Jin Ifrit yang mendengarkan ceritaku kembali berteriak, “Jangan banyak bicara! Kau tidak akan kubunuh, tapi juga tak akan kuampuni. Maka bersiaplah untuk menerima sihirku!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: