Archive for the Al Kisah Category

Pemulung Pun Bisa Kaya

Posted in Al Kisah on 03/16/2009 by Muhammad Taufan

Lantaran lahir dari keluarga miskin, Sunarno hanya bisa menamatkan SD. Lebih

prihatin lagi, sejak kecil ia sudah yatim piatu. Terpaksa ikut orang ke

beberapa kota, jadi kacung untuk sekedar bisa hidup. Tapi itu tidak lama

dilakoni. Ketika kembali ke Solo, akhirnya ia memilih profesi pemulung. Kok

jadi pemulung? “Saya bosan jadi kacung yang selalu disuruh-suruh orang. Jiwa

saya ingin kebebasan,” jawabnya.

Tinggal di daerah kumuh yang berjarak 500 meter dari tempat pembuangan

sampah. Pekerjaannya mengais-ngais sampah, mengumpulkan barang bekas.

Plastik dan kardus jadi incarannya. Setiap hari ia bersama teman-teman

menanti datangnya truk sampah. Begitu mobil pembawa rejeki tiba, mereka

berlarian mendekat, lalu berebut barang-barang bekas – siapa cepat, dia

dapat. “Apalagi yang namanya balung (tulang sapi – red). Itu ibarat emas

bagi kami. Nilainya tinggi kalau dijual,” jelas ayah dua anak ini.

Ia sendiri pernah merasa amat bahagia sewaktu mendapatkan bonggol kubil

(kol). Soalnya “benda berharga” itu didapatnya setelah mengalahkan beberapa

saingan. Lewat “kompetisi” yang ketat ia berhasil mendapatkannya. “Hati saya

bangga dan puas karena itu suatu prestasi,” katanya tersenyum. Ada satu hal

lagi yang membahagiakan hatinya, yaitu saat menyetel radio tatkala masih

hidup di kolong jembatan.”Sayangnya tak terkira, sama bahagiannya dengan

orang naik Mercy atau Volvo,” tambah ayah tiga anak ini.

Sinar terang perubahan hidup mulai tampak pada 1994, ketika tetangganya

memperkanalkan bisnis MLM. Hampir tiap hari tetangga sebelah bercerita,

walau kadang-kadang ia tidak menangkap maksudnya. Maklum cuma lulusan SD.

Jangankan ngerti, untuk hafal nama MLM yang berbahasa Inggris itu saja susah

banget. “Seminggu belum hafal,” katanya tertawa. “Tadinya saya nggak

mikirin. Tapi lantaran sering dengar dan lihat, lama-lama hafal juga.”

*Kuncinya keyakinan*

Setelah belajar dan ditempa dalam berbagai training dan seminar, dalam

hatinya timbul keyakinan. Mulailah ia menjalani bisnis MLM sepenuh hati.

Pagi hari, sesuai profesi, ia cari barang-barang bekas. Siangnya, setelah

mandi, pergi memprospek orang.

Di usaha apa saja pasti ada tantangan. Sunarno pun begitu. Dibilang ngeyel

atau mimpi, itu masih halus. Soalnya, ada yang mencercanya bagai cicak makan

tiang. Namun itu tidak mengecilkan hatinya, sebab sejak kecil ia sudah

terbiasa dengan kompetisi dan tantangan. “Itulah yang mendorong saya untuk

maju. Orang gagal itu biasanya engga mau menghadapi tantangan. Kalau engga

siap mental, yang paling mudah dilakukan adalah berhenti,” kata pria yang

gemar bertani ini.

Menurut Sunarno, kunci keberhasilannya hanya satu: keyakinan. Sebab

keyakinan itu seakan-akan kenyataan. Ia tumbuh dari penguasaan materi dan

belajar dari orang-orang sukses. Bila ingin sukses, bergabunglah dengan

orang-orang sukses, minimal ketularan. Motivasinya dalam berusahan sederhana

saja: kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa. Pasti bisa!

“Sekarang usaha itu persaingannya ketat, minimal butuh modal besar. Tapi di

bisnis MLM yang saya tekuni ini, sing penting niat dan mau. Nggak perlu jadi

pemulung dulu kayak saya. Setelah itu, tinggal melakukan. Perlu tindakan.

Itulah modal yang paling utama,” tandasnya.

Lucunya, dulu karena tinggal di tempat kumuh, sebagian orang belum mau

menerima ajakannya. “Kalau kamu berhasil, baru saya mau ikut,” kata mereka.

Namun setelah berhasil, Sunarno menagih janji. Mereka menjawab, Lha iya,

terang saja Pak Narno sekarang sudah berhasil kok.” Jadi lagi-lagi saya yang

disalahkan,” katanya sembari tertawa kecil. “Itu soal mental. Semua itu

kembali ke pribadi masing-masing.”

Bila teringat kehidupan masa lalu, Sunarno masih diliputi rasa haru. Jadi

ketika dapat fasilitas rumah dari MLM, Sunarno sengaja memilih di Mojosongo,

daerah yang ia huni dulu agar tidak lupa pada sejarah. Tapi bila dulu orang

meremehkannya, sekarang lain, “Kalau lingkungan butuh sesuatu, saya yang

lebih dulu dimintai sumbangan,” ujarnya.

*Ingin mengukir sejarah*

Banyak sudah suka duka yang dialami Sunarno selama menjalankan MLM. Yang

berkesan adalah rekan-rekan, khususnya dalam jaringannya, selalu merujuk

pada latar belakangnya. “Pak Narno yang pemulung saja bisa, kok saya tidak

bisa.” Mereka terpacu dengan itu. Juga sewaktu dinobatkan sebagai Manager

pertama kali, ia tidak mengira bakal dimintai bicara di depan umum. “Saya

sangat terharu. Dengan terbata-bata saya ceritakan perjalanan hidup saya.”

Kehidupan itu, menurut Sunarno, ibarat tiada gelombang yang indah tanpa

menerjang karang. Banyak orang mendambakan hidup aman, damai, tenteranm,

bahagia dan sejahtera. Hidup seperti ini ideal sekali. “Bagi saya hidup itu

sederhana saja, minimal kita punya cita-cita, yaitu sukses dalam segala

bidang. Tapi untuk itu diperlukan tindakan, rencana, tujuan, komitmen,

keyakinan, mengenal diri, dan cinta. Itu semua merupakan mata rantai yang

tak terpisahkan.”

Ia mengaku, waktu kecil tidak punya cita-cita lantaran miskin. Semua

dijalani saja. Cita-cita itu baru terbentuk setelah ia bergabung dengan MLM.

Sunarno ingin berbakti pada bangsa dan negara. “Ukuran saya bukan

penghasilan lagi. Tapi tanggungjawab kepada negara untuk menciptakan suasana

yang baik lewat usaha MLM. Misi saya ingin menolong orang yang tidak punya,

karena falsasah hidup untuk mengasihi dan melayani telah tertanam dalam diri

saya. Falsafah dan misi itu penting dalam segala usaha.”

Selain itu Sunarno ingin umur panjang. Dalam arti bisa mengukir sejarah

sehingga tetap dikenang walau kelak sudah tiada. Maka, dalam kamusnya tidak

ada kata terlambat untuk belajar. Tiga tahun lalu bersama sang istri, ia

mangambil penyesuaian SMP dan SMA. Bahkan kini ia kuliah dobel. Pagi ambil

Pertanian di Universitas Pembangunan Solo, malam kuliah di Fakultas Hukum

Unisri.

Kok sampai dobel? “Saya tertarik di pertanian karena melihat Indonesia jauh

tertinggal di bidang itu. Padalah kondisi alamnya sangat kaya. Orientasi

saya adalah membudayakan pola tanam organik, dan hasil dari pertanian ini

kita bisa memberikan sumbangan kepada negara. Sementara itu, saya kuliah di

hukum supaya tahu mana benar dan mana yang perlu diluruskan,” paparnya.

Sebelum berpisah, ia berpesan kepada rekan-rekan dalam jaringannya agar

tidak gampang menyerah, siap dikritik, semangat menyala-nyala, selalu

berjuang, rela berkorban, dan berdoa. “Beranilah mengambil keputusan, karena

keputusan itulah langkah awal sukses.”

Khadijah Tul Kubrah Binti Khuwaylid

Posted in Al Kisah on 12/27/2008 by Muhammad Taufan

Kisah Istri-istri Nabi

Abdullah Ibnu Jafar pernah mendengar Sayidina Ali berkata; “Wanita terbaik sepanjang masa adalah Siti Maryam binti Imran. Wanita terbaik di jamanku adalah Khadijah binti Khuwailid.”

Sayyidah At-Tahirah

Khadijah hadir di masa bangsa arab di Mekkah memandang rendah kaum wanita. Kala dimana bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena merasa malu. Namun Khadijah seolah membuat kelu lidah para pemuka Arab karena keunggulan sifatnya. Ia menampung bayi-bayi perempuan kecil yang tidak diinginkan ayahnya, mendidiknya dan menjadikan mereka bidadari-bidadari penghias dunia. Karena keikhlasannya, tutur katanya yang santun dan ketegasan sikapnya, masyarakat Mekkah menjulukinya Sayyidah at-Tahirah (si wanita yang suci) dan ada juga yang memanggilnya Sayyidah Nisa’I Quraisy (pemimpin wanita Quraisy).

azhar1Khadijah ra berasal dari keluarga bangsawan. Nasabnya berawal dari Qushay yang merupakan keturunan Ismail. Ayahnya adalah Khuwailid binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushay.yang merupakan salah satu pemimpin terkemuka sebelum ia meninggal dalam peperangan. Ayahnya adalah orang yang mempertahankan Hajar Aswad dari agresi raja Tubba di Yaman. Sepupunya Waraqah bin Naufal, salah satu cendikia yang hanif dan mengetahui banyak hal. Ia mempelajari semua kitab baik Taurat maupun Injil dan berguru pada orang-orang bijak. Dia mengetahui kebenaran yang diceritakan oleh Musa AS maupun Isa AS bahwa akan datang Nabi terakhir di akhir zaman dan mengetahui ciri-ciri dari Nabi terakhir tersebut. Ia menolak menyembah berhala seperti yang dilakukan kaumnya.

Dua suaminya telah meninggal lebih dulu dan masing-masing memberinya seorang putri yang diberi nama sama yaitu Hindun. Hindun yang pertama menjadi pencerita sejarah perkembangan Islam yang piawai. Sedangkan Hindun yang kedua adalah salah seorang sahabat Rasulullah.

Asal Mula Hari Raya Qurban/ Idul Adha

Posted in Al Kisah on 12/27/2008 by Muhammad Taufan

Dalam mimpinya ia merasa mendapatkan perintah dari Alloh untuk menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim AS terbangun dengan terkejut.
“Astaghfirulloh,” kata Nabi Ibrahim AS dalam hati. “Mungkinkah setan yang telah memberiku mimpi buruk?”

Terjadinya sumur Zamzam

Nabi Ibrahim AS menikah untuk kedua kalinya dengan Hajar, salah seorang pembantu yang berakhlak mulia, atas saran dari istrinya Sarah. Hal itu karena hingga usia mereka yang semakin lanjut, mereka belum juga dikaruniai anak. Sementara Nabi Ibrahim berharap bisa memiliki keturunan untuk meneruskan dakwahnya. Atas izin Alloh, tidak berapa lama kemudian Hajar mengandung dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Ismail. Nabi Ibrahim AS sangat bersuka cita. Namun Sarah yang semula begitu menyetujui pernikahan mereka, merasa cemburu melihat Hajar dapat memberi suaminya seorang putra.
“Kenapa bukan aku?” pikirnya.

Setelah kecemburuannya tak tertahankan lagi, ia meminta suaminya untuk mengusir Hajar.
“Suamiku, bawalah Hajar dan anaknya Ismail pergi dari sini, aku tidak tahan melihatnya,” pinta Sarah.
“Tapi, Hajar baru saja melahirkan dan Ismail masih bayi merah, tidak kasihankah engkau pada mereka?” tanya Nabi Ibrahim AS.
“Aku tidak dapat menahan kecemburuanku melihat anugerah yang diberikan Alloh pada Hajar, tolonglah bawa mereka pergi jauh-jauh!” Sarah memohon.
Nabi Ibrahim terdiam. Kemudian turunlah wahyu Alloh yang memerintahkannya untuk membawa Hajar dan Ismail ke sebuah gurun pasir. Maka ia segera menyiapkan perbekalan untuk perjalanan mereka. Esoknya berangkatlah ketiga anak beranak ini dari Palestina menuju gurun pasir yang tandus.

Berhari-hari mereka mengarungi gurun pasir yang tandus dan terik hingga tibalah mereka di suatu tempat yang sekarang bernama Mekah. Alloh memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat itu.
“Istriku, disinilah aku harus meninggalkan engkau dan Ismail. Sementara aku harus kembali ke Palestina dan meneruskan dakwahku,” kata Nabi Ibrahim AS.
Mendengar kata-kata suaminya, Hajar menangis karena ketakutan.
“Suamiku tegakah engkau meninggalkan aku dan anakmu yang baru lahir ini di padang tandus tak berpenghuni ini?” tangisnya. “Kemana nantinya aku encari perlindungan?”
“Hajar istriku. Tentu saja berat hatiku meninggalkan kalian berdua di sini. Tapi ini adalah perintah Alloh. Percayalah pada perlindungan-Nya. InsyaAlloh Ia akan selalu menolongmu,” kata Nabi Ibrahim AS.
Hajar segera menyadari tugas yang diemban suaminya sebagai Nabi, maka dengan ikhlas ia merelakan suaminya untuk kembali ke Palestina.
Nabi Ibrahim AS segera memanjatkan doa, memohon perlindungan Alloh untuk anak dan istrinya, “Ya Alloh lindungilah anak dan istriku dan muliakanlah tanah ini di kemudian hari.”
Kemudian dengan perasaan berat ia berpamitan kepada Hajar dan mencium kening Ismail.

Sepeninggal Nabi Ibrahim, Hajar terduduk di tengah gurun. Matahari seolah ingin membakar semua makhluk yang ada di bawahnya. Setan yang senang menggoda manusia, membisikkan pikiran-pikiran jahat di benak Hajar.
“Hai Hajar. Percayakah engkau dengan yang diucapkan suamimu? Alloh tidak mungkin memberikan perintah yang kejam. Itu pastilah akal-akalan suamimu untuk mengusir kalian,” bisiknya.
“Demi Alloh, aku percaya dengan kemuliaan suamiku. Pergilah dari pikiranku!” Hajar berbicara dalam batinnya.
Untuk menentramkan hati, Hajar memanjatkan doa kepada Alloh SWT, “Ya Alloh yang Maha Agung lindungilah hambaMu. Dan berilah hamba ketabahan serta kesabaran yang tinggi.”

Sebentar saja perbekalan mereka habis. Tak ada air yang tersisa. Ismail mulai menangis karena kelaparan dan kehausan. Hajar mencoba menyusuinya, namun tak setetes pun ASInya yang keluar. Ia mulai panik. Ia mencoba memeras kerudungnya, berharap ada keringatnya yang bisa diminum Ismail, tapi keringatnya pun kering. Ia meletakkan putranya di tanah.
“Anakku, tunggulah di sini. Ibu akan mencoba mencari air. Mudah-mudahan di bukit itu ada mata airnya,” kata Hajar.

Lalu ia berlari-lari kecil mendaki bukit Shofa hingga ke puncaknya. Alangkah kecewanya ia, karena tidak setetes air pun yang ditemukannya. Dari puncak bukit Shofa ia melihat bahwa di bukit satunya (bukit Marwah) sepertinya ada mata air. Maka ia kembali berlari menuruni bukit Shofa dan mendaki bukit Marwah. Namun ternyata yang dilihatnya hanyalah fatamorgana. Tak ada air di sana. Bukit itu sama tandusnya. Tiba-tiba ia melihat bahwa di bukit Shofa ada mata air.
Segera ia kembali menuju bukit Shofa dan menemukan bukit itu tandus. Ia terus berlari bolak-balik antara Shofadan Marwah hingga tujuh kali. Inilah nantinya yang dalam ibadah haji disebut Sa’i.

Hajar sangat kelelahan dan hampir putus asa. Tiba-tiba ia melihat Ismail yang masih menangis, menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Dari hasil hentakkannya itu keluarlah air yang memancar. Hajar segera berlari mendekati anaknya. Air iu memancar deras dan menyebar kemana-mana.
“Zam zam!” kata Hajar yang artinya ‘berkumpullah’.
Air itu kemudian berkumpul dan membentuk sebuah genangan yang luas. Dengan gembira Hajar memberi minum putranya hingga kenyang, lalu ia pun minum untuk menghilangkan dahaganya.


Dalam mimpinya ia merasa mendapatkan perintah dari Alloh untuk menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim AS terbangun dengan terkejut.
“Astaghfirulloh,” kata Nabi Ibrahim AS dalam hati. “Mungkinkah setan yang telah memberiku mimpi buruk?”

Terjadinya sumur Zamzam

Nabi Ibrahim AS menikah untuk kedua kalinya dengan Hajar, salah seorang pembantu yang berakhlak mulia, atas saran dari istrinya Sarah. Hal itu karena hingga usia mereka yang semakin lanjut, mereka belum juga dikaruniai anak. Sementara Nabi Ibrahim berharap bisa memiliki keturunan untuk meneruskan dakwahnya. Atas izin Alloh, tidak berapa lama kemudian Hajar mengandung dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Ismail. Nabi Ibrahim AS sangat bersuka cita. Namun Sarah yang semula begitu menyetujui pernikahan mereka, merasa cemburu melihat Hajar dapat memberi suaminya seorang putra.
“Kenapa bukan aku?” pikirnya.

Setelah kecemburuannya tak tertahankan lagi, ia meminta suaminya untuk mengusir Hajar.
“Suamiku, bawalah Hajar dan anaknya Ismail pergi dari sini, aku tidak tahan melihatnya,” pinta Sarah.
“Tapi, Hajar baru saja melahirkan dan Ismail masih bayi merah, tidak kasihankah engkau pada mereka?” tanya Nabi Ibrahim AS.
“Aku tidak dapat menahan kecemburuanku melihat anugerah yang diberikan Alloh pada Hajar, tolonglah bawa mereka pergi jauh-jauh!” Sarah memohon.
Nabi Ibrahim terdiam. Kemudian turunlah wahyu Alloh yang memerintahkannya untuk membawa Hajar dan Ismail ke sebuah gurun pasir. Maka ia segera menyiapkan perbekalan untuk perjalanan mereka. Esoknya berangkatlah ketiga anak beranak ini dari Palestina menuju gurun pasir yang tandus.

Berhari-hari mereka mengarungi gurun pasir yang tandus dan terik hingga tibalah mereka di suatu tempat yang sekarang bernama Mekah. Alloh memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat itu.
“Istriku, disinilah aku harus meninggalkan engkau dan Ismail. Sementara aku harus kembali ke Palestina dan meneruskan dakwahku,” kata Nabi Ibrahim AS.
Mendengar kata-kata suaminya, Hajar menangis karena ketakutan.
“Suamiku tegakah engkau meninggalkan aku dan anakmu yang baru lahir ini di padang tandus tak berpenghuni ini?” tangisnya. “Kemana nantinya aku encari perlindungan?”
“Hajar istriku. Tentu saja berat hatiku meninggalkan kalian berdua di sini. Tapi ini adalah perintah Alloh. Percayalah pada perlindungan-Nya. InsyaAlloh Ia akan selalu menolongmu,” kata Nabi Ibrahim AS.
Hajar segera menyadari tugas yang diemban suaminya sebagai Nabi, maka dengan ikhlas ia merelakan suaminya untuk kembali ke Palestina.
Nabi Ibrahim AS segera memanjatkan doa, memohon perlindungan Alloh untuk anak dan istrinya, “Ya Alloh lindungilah anak dan istriku dan muliakanlah tanah ini di kemudian hari.”
Kemudian dengan perasaan berat ia berpamitan kepada Hajar dan mencium kening Ismail.

Sepeninggal Nabi Ibrahim, Hajar terduduk di tengah gurun. Matahari seolah ingin membakar semua makhluk yang ada di bawahnya. Setan yang senang menggoda manusia, membisikkan pikiran-pikiran jahat di benak Hajar.
“Hai Hajar. Percayakah engkau dengan yang diucapkan suamimu? Alloh tidak mungkin memberikan perintah yang kejam. Itu pastilah akal-akalan suamimu untuk mengusir kalian,” bisiknya.
“Demi Alloh, aku percaya dengan kemuliaan suamiku. Pergilah dari pikiranku!” Hajar berbicara dalam batinnya.
Untuk menentramkan hati, Hajar memanjatkan doa kepada Alloh SWT, “Ya Alloh yang Maha Agung lindungilah hambaMu. Dan berilah hamba ketabahan serta kesabaran yang tinggi.”

Sebentar saja perbekalan mereka habis. Tak ada air yang tersisa. Ismail mulai menangis karena kelaparan dan kehausan. Hajar mencoba menyusuinya, namun tak setetes pun ASInya yang keluar. Ia mulai panik. Ia mencoba memeras kerudungnya, berharap ada keringatnya yang bisa diminum Ismail, tapi keringatnya pun kering. Ia meletakkan putranya di tanah.
“Anakku, tunggulah di sini. Ibu akan mencoba mencari air. Mudah-mudahan di bukit itu ada mata airnya,” kata Hajar.

Lalu ia berlari-lari kecil mendaki bukit Shofa hingga ke puncaknya. Alangkah kecewanya ia, karena tidak setetes air pun yang ditemukannya. Dari puncak bukit Shofa ia melihat bahwa di bukit satunya (bukit Marwah) sepertinya ada mata air. Maka ia kembali berlari menuruni bukit Shofa dan mendaki bukit Marwah. Namun ternyata yang dilihatnya hanyalah fatamorgana. Tak ada air di sana. Bukit itu sama tandusnya. Tiba-tiba ia melihat bahwa di bukit Shofa ada mata air.
Segera ia kembali menuju bukit Shofa dan menemukan bukit itu tandus. Ia terus berlari bolak-balik antara Shofadan Marwah hingga tujuh kali. Inilah nantinya yang dalam ibadah haji disebut Sa’i.

Hajar sangat kelelahan dan hampir putus asa. Tiba-tiba ia melihat Ismail yang masih menangis, menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Dari hasil hentakkannya itu keluarlah air yang memancar. Hajar segera berlari mendekati anaknya. Air iu memancar deras dan menyebar kemana-mana.
“Zam zam!” kata Hajar yang artinya ‘berkumpullah’.
Air itu kemudian berkumpul dan membentuk sebuah genangan yang luas. Dengan gembira Hajar memberi minum putranya hingga kenyang, lalu ia pun minum untuk menghilangkan dahaganya.

Nabi Sulaiman AS dan Ratu Bilqis

Posted in Al Kisah on 12/27/2008 by Muhammad Taufan

cg_4

Nabi Sulaiman AS dari negeri Ursyalim adalah putra nabi Daud AS yang memimpin negeri ini dengan sangat bijaksana. Negeri Ursyalim dikaruniai tanah yang subur dan diberikan curahan rizki yang berlimpah. Kerajaan Ursyalim merupakan kerajaan terkaya sepanjang masa. Tidak ada kerajaan manapun sebelum dan setelah kekuasaan nabi Sulaiman AS yang bisa menandingi kekayaannya. Negerinya begitu luas, bahkan di dalam istananya tebentang padang yang sebagian dihampari emas dan sebagian dihampari perak sebagai permadaninya. Dan jika tentaranya berbaris di padang itu, panjang barisannya tidak kurang dari 3 mil. Selain itu sebagai seorang nabi, nabi Sulaiman diberi mujizat yang luar biasa, dia menguasai bahasa binatang dan jin. Tidak heran jika kekuasaannya tidak hanya meliputi umat manusia tetapi juga menguasai kerajaan binatang dan kerajaan jin. Kendaraan nabi Sulaiman adalah angin, sehingga dia bisa sampai di suatu tempat hanya dengan hitungan detik.

Meski kerajaannya begitu luas, namun nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS dapat menjamin kemakmuran rakyatnya. Setiap hari beribu-ribu ternak dikurbankan dan dagingnya dibagikan kepada rakyat. Piring-piring sebesar kolam dan periuk-periuk yang tidak pernah meninggalkan tungkunya tersebar di wilayah kerajaan, sehingga rakyat tidak pernah kekurangan makanan. Selain itu kebijakan dan kearifan kedua nabi ini tidak perlu diragukan lagi.

Suatu hari nabi Sulaiman mendengar bahwa di sebuah negeri bernama negeri Shaba, ada seorang ratu yang kecantikannya tiada tara. Sayang rakyat di negeri itu masih menyembah matahari sebagai Tuhan mereka. Maka diutuslah seekor burung bulbul untuk menyampaikan surat kepada ratu Shaba. Isi surat itu adalah supaya negeri Shaba menyerahkan diri kepada negeri Ursyalim dan mengakui Alloh SWT sebagai Tuhan yang Esa.

Sementara itu ratu Shaba yang menerima surat tersebut, mengumpulkan majlisnya dan meminta pertimbangan. Ramailah suasana di dalam majlis itu. Sebagian menginginkan perang dan sebagian lagi mengusulkan untuk berdamai. Kebetulan saat menerima surat itu, negeri Syaba sedang mengalami musibah. Banyak warga Syaba yang terkena wabah yang mematikan, sehingga sebagian warga telah menjadi korban. Hal ini mebuat pertahanan negeri ini menjadi porak poranda. Dan berdasarkan pertimbangan itu pula ratu memutuskan untuk mengirimkan utusan yang akan mempersembahkan hadiah kepada raja Ursyalim sebagai tanda perdamaian. Namun ternyata raja Ursyalim menolaknya dan mengancam akan menyerang negeri syaba jika mereka tetap tidak mau bertobat.

Akhirnya ratu memutuskan untuk datang sendiri mengunjungi negeri Ursyalim untuk bertemu dengan nabi Sulaiman AS.

Perjalanan menuju Ursyalim membutuhkan waktu berhari-hari dan harus ditempuh dengan jalur darat dan laut. Namun lelahnya perjalanan itu terobati ketika melihat betapa indahnya negeri Ursyalim. Nabi Sulaimn AS sendiri yang menyambut rombongan ratu Syaba.
“Perkenankan aku memanggilmu Bilqis wahai ratu Shaba. Artinya adalah permaisuri yang cantik,” kata nabi Sulaiman yang membuat ratu Shaba itu tersipu.

Di depan gerbang istana ratu tercengang melihat kemegahan istana Ursyalim. Istana itu terletak seolah di tengah-tengah sebuah kolam yang sangat jernih.
Dan nabi pun berkata, “Wahai Bilqis masuklah engkau ke dalam istana!”
Maka ratu mengangkat sedikit roknya karena takut airnya akan membasahi roknya.
Melihat itu nabi menenangkannya dan berkata,”Jangan takut wahai Bilqis, sesungguhnya yang kaulihat ini bukan air melainkan kaca yang licin.”

Mereka lalu masuk ke dalam istana dan nabi Sulaiman mempersilahkan ratu Shaba atau ratu Bilqis untuk duduk di singgasana. Betapa terkejutnya ratu ketika menyadari bahwa singgasana yang akan didudukinya adalah tidak lain singgasananya sendiri yang seharusnya berada di negerinya.
“Apakah singgasana ini mirip dengan singgasanamu? Tanya nabi.
“Yah, memang mirip. Hanya saja ada beberapa permata yang hilang dari tempatnya,” jawab ratu sambil meneliti singgasana tersebut.
“Itu memang singgasanamu!” kata nabi.
“Bagaimanakah caranya singgasanaku bisa sampai kemari sementara aku menguncinya di negeriku?” tanya ratu.
“Tentu atas ijin Alloh, seseorang bisa membawanya kemari bahkan sebelum aku sempat berkedip,” kata nabi.
Ratu terkagum-kagum mendengar penjelasan nabi. Kini dia semakin yakin bahwa nabi Sulaiman bukan raja sembarangan.

Mereka lalu menuju taman istana dimana berbagai macam buah tumbuh subur dan di dalamnya mengalir sungai-sungai yang mengalirkan air dengan bermacam rasa. Sungguh anugrah Alloh yang luar biasa. Melihat semua peristiwa ini, ratu Bilqis menyatakan keimanannya kepada Alloh SWT dan mengakui nabi Sulaiman sebagai rosul utusan Alloh.

Ternyata pertemuan dua insan ini menimbulkan rasa cinta yang mendalam, sehingga nabi Sulaiman AS meminang ratu Syaba dan mereka pun menikah.

Cinta sejati mereka hanya terpisahkan ketika pada suatu hari di masa tuanya, nabi sedang mengawasi para jin bekerja lalu tiba-tiba jatuh tesungkur karena tongkat yang dipegangnya dimakan rayap. Rupanya nabi telah tiada sejak lama. Dan kalau bukan karena rayap yang menggerogoti tongkatnya hingga patah, tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa nabulloh itu telah pergi. Subhanalloh semoga kita selalu menjadi hamba Alloh yang bersyukur. Amin.



Qorun dan Nabi Musa AS

Posted in Al Kisah on 12/27/2008 by Muhammad Taufan


harta-qorun

Pada jaman Nabi Musa AS menjadi pemimpin Bani Israil, ada seorang yang bernama Qorun. Awalnya Qorun adalah salah seorang pengikut Nabi Musa AS yang sangat taat beribadah. Karena sangat sibuk beribadah, Qorun tidak begitu peduli dengan masalah duniawi. Alhasil Qorun dan keluarganya hidup serba kekurangan. Namun, meski begitu Qorun termasuk ulama yang sangat disegani saat itu.

Istri Qorun, Ilza, tidak terlalu puas dengan kehidupannya. Dia sering mengeluh dan merengek agar Qorun mau lebih berusaha meningkatkan taraf hidup mereka. “Suamiku, sepertinya aku mulai bosan hidup miskin. Kenapa kita harus hidup menderita seperti ini padahal kau taat beribadah?” rengek Ilza pada Qorun. “Istriku, kenapa kau membandingkan kesenangan duniawi dengan kesenangan bathin? Ibadah adalah untuk membuat hati kita tenang, bukan untuk mencari kekayaan,” jawab Qorun. “Tapi aku juga ingin sekali-kali makan enak dan punya baju bagus seperti orang lain,” rengek Ilza. Qorun tertegun mendengar rengekan istrinya. “Maafkan aku istriku, aku tidak tahu kalau kau begitu menderita,” kata Qorun.

Suatu hari datanglah dua orang pria ke rumah Qorun. Mereka mengaku utusan raja Gholan yang membawa hadiah berupa uang emas yang banyak. “Maaf, kenapa saya harus menerima hadiah dari raja Gholan? Saya tidak mengenalnya, dan tidak merasa pernah berbuat kebaikan padanya. Jadi maaf, saya tidak bisa menerima pemberiannya,” kata Qorun. “Oh, tentu saja anda sangat berjasa. Bukankah anda adalah ulama besar yang mengajarkan kebaikan disini? Lagipula raja kami juga memberikan hadiah yang sama untuk ulama lainnya kok!” bujuk kedua utusan itu. “Ah tetap saja saya tidak bisa menerima hadiah ini. Pasti ada maksud lain dari pemberian ini,” pikir Qorun. “Maaf saya tidak bisa menerima pemberian rajamu. Sampaikan saja rasa terima kasihku!” kata Qorun pasti.

gold

Berkali-kali kedua utusan itu datang, namun selalu ditolak oleh Qorun. Akhirnya mereka memutuskan unk datang saat Qorun tidak sedang berada di rumah dan menemui Ilza istri Qorun. “Ayolah nyonya, diterima saja hadiah ini. Nyonya bisa beli apapun yang nyonya mau,” bujuk mereka. “Benar juga,” pikir Ilza, “aku kan sudah lama ingin punya uang banyak.” Tapi dia lalu teringat suaminya yang tidak mau menerima hadiah itu. “Ah tapi saya juga takut nanti suamiku akan marah jika tahu aku menerima hadiah yang ditolaknya,” kata Ilza muram. “Nyonya jangan bilang dulu! Berikan saja suami nyonya masakan yang lezat. Dan nyonya juga harus berhias supaya suami nyonya terpesona. Maka suami nyonya dijamin tidak akan marah!” bujuknya. “Hmmmm, ada baiknya juga dicoba,” pikir Ilza. Maka dia menerima hadiah dari raja Gholan tersebut.

Sorenya saat Qorun baru pulang dari tempat ibadah, dia melihat istrinya telah memakai pakaian bagus dan kelihatan tampak cantik. Bukan itu saja, di meja makan telah terhidang makanan dan minuman yang sangat lezat. “Darimana kau dapat semua ini?” tanya Qorun heran. “Makanlah dulu, nanti akan kuceritakan,” kata Ilza berahasia. Kemudian setelah Qorun selesai makan dan minum, Ilza menceritakan apa yang terjadi. “Apa? Bukannya aku sudah menolak hadiah tak jelas itu? Kenapa kamu malah menerimanya?” tanya Qorun kaget. “Suamiku, bukankah kau juga senang bisa makan enak dan melihat istrimu berdandan?” rayu Ilza. “Tidak ada salahnya kan punya uang banyak? Toh kita masih bisa tetap beribadah,” lanjut Ilza. Qorun termenung. “Baiklah!” katanya. “Tapi jika nanti dia menuntut macam-macam, kita harus mengembalikan uangnya,” kata Qorun.

Karena terbiasa hidup enak, ibadah Qorun makin lama makin berkurang. Apalagi Ilza selalu melarangnya jika dia berniat untuk mengunjungi nabi Musa. “Bersama Nabi Musa hidup kita miskin. Lebih baik jauhi saja dia!” begitu terus kata Ilza. Lama kelamaan Qorun tidak pernah lagi beribadah. Kini dia mulai sibuk berniaga. Makin hari hartanya semakin banyak. Hingga akhirnya Qorun menjadi orang yang sangat kaya raya. Namun sayang, kini dia menjadi sombong dan pelit. Dia selalu ingin terlihat berkuasa dan gila pujian. Kekayaannya selalu dihitung sampai sedetil-detilnya, hingga kehilangan satu dinar pun dia pasti akan mengetahuinya.

Kisah Si Pencemburu dan Syekh yang Dicemburuinya

Posted in Al Kisah on 12/25/2008 by Muhammad Taufan


‘Ketahuilah wahai tuan Jin, bahwa dahulu ada seorang pria yang sangat dicemburui oleh tetangganya karena kesuksesannya. Tapi semakin ia cemburu, Alloh semakin baik pada tetangganya. Ia semakin sukses. Tapi ketika tetangganya itu mengetahui kecemburuan tetangganya dan keinginannya untuk menghancurkan dirinya, ia memutuskan untuk pindah dan membangun sebuah tempat ibadah di pinggir sebuah sumur di kawasan yang terpencil. Di sana ia menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah kepada Alloh.

Banyak sekali Fakir yang berkumpul di tempat ibadahnya dan ia sangat dihormati. Mereka percaya akan kesuciannya dan mereka memberi gelar syeikh kepadanya. Ketenarannya akhirnya sampai di telinga si Pencemburu. Ia buru-buru menaiki kudanya dan berangkat untuk mengunjunginya. Di sana ia disambut dengan sangat ramah.

“Aku kemari dengan membawa berita yang akan memberimu kebaikan di akhirat kelak dan aku akan memperoleh pahala karena menyampaikannya padamu,” kata Pencemburu.

“Subhanalloh, semoga Alloh membalas kebaikanmu,” kata Syeikh.

“Suruhlah para Fakir itu masuk ke kamarnya! Karena berita ini sangat rahasia dan tidak boleh ada yang mendengarnya selain kita,” kata Pencemburu.

Setelah para Fakir masuk ke dalam kamar mereka, si Pencemburu berkata; “Mari kita membicarakannya sambil berjalan-jalan.”

Lalu mereka pun berjalan hingga tiba di sumur yang terpencil dan tiba-tiba si Pencemburu mendorong Syeikh hingga jatuh ke dalam sumur. Menyangka tetangganya telah mati, dengan puas si Pencemburu pulang ke rumahnya.

Ternyata sumur itu dihuni oleh beberapa Jin. Mereka menangkap tubuh Syeikh dan mendudukkannya di atas sebuah batu besar.
“Tahukah kau siapa dia?” tanya salah satu jin kepada temannya.
“Kami tidak tahu,” sahut temannya.
“Dia adalah seorang pria yang karena ada seseorang yang mencemburui kesuksesannya, memutuskan untuk pergi dan menetap di tempat ini. Dialah yang selalu menghibur kita dengan bacaan zikirnya dan lantunan ayat-ayat Al-Quran. Ketika si Pencemburu mengetahui keberadaannya, ia datang kemari dan melemparkannya ke dalam sumur ini. Ketahuilah, bahwa hari ini ketenarannya telah sampai di telinga Sultan dan ia akan mengunjunginya besok pagi untuk urusan yang menyangkut kesehatan puterinya.” Kata Jin yang pertama.
“Memang kenapakah puteri Sultan itu?” tanya temannya.
“Ia gila karena Maimun anaknya Dedemit, jatuh cinta padanya. Sebenarnya obatnya sangat gampang,” kata Jin pertama.
“Apa itu?” tanya yang lain.
“Di dalam rumah ibadah itu ada seekor kucing hitam dengan sedikit bulu putih di ujung ekornya. Kalau tujuh helai bulunya dicabut dan dipakai untuk mengasapi puteri raja itu, maka setan itu akan lari dan puteri akan sembuh,” kat jin pertama.

Esoknya para Fakir melihat Syeikh melayang keluar dari dalam sumur. Mereka semakin yakin akan kesucian syeikh mereka.
Sesampainya di tempat ibadahnya Syeik segera mencari kucing hitamnya dan mencabut 7 helai bulu putih di ujung ekornya. Menyimpannya dalam sehelai kain. Tak berapa lama rombongan Sultan datang. Syeikh menyambut dan mempersilahkan mereka masuk.
“Oh Tuan Sultan. Apakah kedatanganmu kemari untuk menanyakan kesanggupanku menyembuhkan putri anda?” tanya Syeikh.
“Ya Syeikh yang suci,” jawab Sultan kagum.
“Bawalah ia kemari. Atas nama Alloh yang Maha Menyembuhkan, aku yakin ia akan sembuh dalam sekejap,” kata Syeikh.
Ketika Putri telah berada di hadapannya, Syeikh segera membakar ketujuh bulu kucing tersebut dan mengasapi hidung puteri. Terdengar jeritan jin yang kesakitan. Jin itu melarikan diri dan detik itu juga sembuhlah sang Puteri.

Puteri yang telah pulih kesadarannya segera menutupi wajahnya dengan cadar dan bertanya pada ayahnya.
“Ada apa gerangan? Dan dimanakah aku berada?” tanyanya.
“Jangan khawatir anakku!” ujar Sultan dengan suka cita.
Sultan berpaling pada pengikutnya dan bertanya, “Hadiah apakah yang paling pantas aku berikan kepada Syeikh ini atas jasanya?”
“Nikahkanlah ia dengan puteri!” jawab para Tetua istana.
Maka Sultan menikahkan mereka berdua. Ketika akhirnya Sultan mangkat, Syeikh diangkat untuk menggantikannya.

Suatu hari saat Syeikh melakukan kunjungan dengan para prajuritnya, dilihatnya si Pencemburu datang menghampirinya. Syeikh dengan sopan memintanya untuk ikut duduk di keretanya. Ia membawanya ke istana dan menjamunya dengan hormat. Lalu ia memberikan baju-baju bagus dan berkantung-kantung uang emas kepada si Pencemburu kemudian mengantarkannya pulang dengan selamat.
Perhatikanlah wahai Jin! Bagaimana Syeikh itu memaafkan orang yang telah mencelakakannya. Ia tidak membalas dendam sedikit pun,’ kataku.

Jin Ifrit yang mendengarkan ceritaku kembali berteriak, “Jangan banyak bicara! Kau tidak akan kubunuh, tapi juga tak akan kuampuni. Maka bersiaplah untuk menerima sihirku!”