Archive for the Dongeng Category

Sinterclass

Posted in Dongeng with tags on 12/30/2008 by Muhammad Taufan

deerani

feliz-natal_308476090_natal3

Seperti halnya kota-kota lain di Inggris, para keluarga di Birmingham sejak awal Desember sudah sibuk berbelanja pernak-pernik, lampu, maupun hiasan Natal untuk dipajang di rumah mereka. Banyak kafe, bar, dan toko, walau pemiliknya ada yang beragama Muslim dan Hindu, juga ikut memasang pohon-pohon terang sebagai etalase untuk memikat pengunjung.
Namun pemandangan yang paling sering ditemui adalah orang-orang yang berdandan ala Santa Claus alias Noel Baba alias Sinterklas, tokoh favorit yang selalu muncul menjelang perayaan Hari Natal.

Mulai dari pergi ke bar untuk berpesta, mencari uang, sampai mengikuti turnamen lari maraton, pasti ada yang memakai topi atau kostum merah khas Sinterklas. Berunjuk rasa-pun juga memakai kostum Sinterklas seperti yang dilakukan akhir pekan lalu di London.
Berkat imajinasi para pujangga Amerika dan gencarnya iklan perusahaan minuman ringan Coca-Cola, tokoh suci asal Turki bernama Santo (St) Nicholas berubah menjadi kakek periang nan menggemaskan bernama Sinterklas yang membawa banyak hadiah dengan mengendarai kereta yang ditarik sekelompok rusa terbang dari Kutub Utara.

deer-wallpapers

Seperti yang diberitakan harian “The Sunday Times” akhir pekan lalu, para ilmuwan telah merampungkan rekonstruksi wajah “Sinterklas” yang sebenarnya. Dengan memanfaatkan kecanggihan komputer seorang antropolog dari Universitas Manchester, Caroline Wilkinson, menyajikan wajah St.Nicholas dalam bentuk tiga dimensi.
Perupaan tersebut bersumber dari penelitian tulang tengkorak St. Nicholas yang dilakukan atas seizin Gereja Vatikan di Gereja San Nicola, Bari, Italia, pada dekade 1950-an.
Hasilnya sungguh berbeda dari rupa Sinterklas yang sering kita saksikan melalui berbagai iklan dan kartu ucapan. Seperti yang ditayangkan stasiun televisi BBC pada akhir pekan ini, wajah St. Nicholas yang sebenarnya, menurut versi komputer, merupakan seorang pria berewok berhidung patah berusia 60-an tahun yang sepintas lebih mirip seorang kriminal ketimbang seorang kakek yang lucu.

christmas-treeSt. Nicholas yang Legendaris
Menurut data yang dihimpun situs lembaga sosial asal Amerika, St. Nicholas Center, Nicholas lahir pada abad ke-3, konon pada tahun 270, di Desa Patara, sebelah selatan Turki, yang dulu masih bernama Bynzantium di bawah kekuasan Kekaisaran Romawi.
Dia merupakan anak keluarga berada, namun Nicholas kecil menjadi yatim-piatu saat kedua orang tuanya wafat karena wabah penyakit.
0511-0712-0901-3147_cartoon_santa_clipart_imageKepatuhannya atas ajaran cinta kasih kepada sesama yang dilakukan Yesus Kristus seperti yang tertulis di Alkitab membuat Nicholas tidak segan-segan menyisihkan kekayaan yang diwariskan orang tuanya kepada mereka yang berkekurangan, sakit, maupun yang sedang menderita.
Sifat kedermawanannya yang melekat membuat Nicholas muda mengabdikan dirinya untuk melayani sesama dengan menjadi uskup di Kota Myra. Nama Nicholas menjadi terkenal di penjuru Myra karena secara tulus membantu masyarakat yang lemah, para pelaut, dan sangat sayang kepada anak-anak.
Sifat welas asih Nicholas tak pelak menjadi legenda dan salah satunya yang terkenal, yaitu kisah seorang ayah dan tiga anak perempuannya yang hidup dalam kemiskinan. Demi menyambung hidup, tiada jalan keluar bagi ayah tersebut selain melepas ketiga putrinya sebagai pengantin.
Masalahnya, mereka tidak punya harta yang berharga sebagai mas kawin untuk memikat mempelai laki-laki. Menurut tradisi setempat, semakin berharga mas kawin yang disediakan, makin besar peluang untuk dipersunting laki-laki dari kaum berada.
j
Keajaiban terjadi di tengah kegundahan ayah tersebut, yang berencana melacurkan ketiga putrinya demi mendapatkan mas kawin. Tiga malam berturut-turut sekantung emas dilemparkan ke dalam rumah keluarga tersebut sebagai pengganti mas kawin.
Pada malam ketiga, ayah ketiga putri tersebut mengintip untuk mencari tahu siapa yang melempar kantung-kantung emas itu. Keesokan harinya dia tidak segan-segan untuk mengabarkan ke penjuru Kota Myra bahwa Nicholas-lah yang memberikan kebaikan kepada mereka.
tradisi-natal
Kisah tersebut akhinya memunculkan tradisi di negara-negara Barat bahwa menjelang hari Natal anak-anak membantu orang tua mereka memasang beberapa kantung atau kaus kaki panjang di dekat Pohon Terang. Siapa tahu Sinterklas akan menaruh hadiah di kantung-kantung tersebut pada suatu malam.
santa
Selain itu ada juga cerita bahwa yang dilempar Nicholas kepada rumah keluarga miskin tersebut bukanlah tiga kantung emas melainkan bola-bola emas. Itulah sebabnya Sinterklas juga disimbolkan dengan tiga bola emas, yang bisa juga diganti dengan jeruk.
Nicholas juga dikabarkan sempat mendekam di penjara dan menjalani masa pengasingan atas perintah Kaisar Diocletian, yang sangat antikristiani. Konon sebagian besar penghuni penjara Romawi merupakan para uskup dan kaum rohaniwan ketimbang bramacorah maupun pembunuh.
Setelah bebas, Nicholas tetap setia menjadi pengikut Kristus dan menerapkan ajaran cinta kasih kepada umat dan masyarakat sekitar hingga akhir hayatnya pada tanggal 6 Desember 343 dan dimakamkan di gereja di Myra. Tidak lama kemudian dia dianugerahi gelar oleh Gereja Vatikan sebagai orang suci (Santo). Tanggal wafatnya diperingati sebagai hari perayaan Santo Nicholas.

fhotost_06170416bJasadnya Diperebutkan
Sayang, kepicikan kalangan rohaniwan Kristen Eropa di abad pertengahan membuat jasad St.Nicholas tidak dapat beristirahat dengan tenang dan diperlakukan sebagai barang dagangan karena dianggap benda keramat untuk menarik minat banyak peziarah sehingga mendatangkan keuntungan bagi tempat ibadah dan kota setempat.
Menurut data dari The Sunday Times Magazine, konon beberapa gereja memiliki potongan tulang belulang St. Nicholas. Tiga gereja di Prancis mengklaim memiliki beberapa tulang St. Nicholas, seperti di gereja di Toulouse yang menyimpan tulang jari, gereja di Rimini yang mengoleksi tulang lengan, sedangkan di Corbie menyimpan potongan gigi.
Namun yang paling terkenal adalah gereja di Bari yang menyimpan tengkorak St. Nicholas hasil curian dari kuburan di gereja di Turki. Pada awal bulan Mei 1087, sekelompok tentara bayaran dan pelaut Kristen asal kota Bari, Italia, berhasil menyelinap ke kota pelabuhan Myra di sebelah selatan Turki menuju ke suatu biara. Di biara tersebut, konon mereka berhasil mencuri tulang belulang St. Nicholas. Pencurian tersebut sampai kini tetap dikenang melalui prosesi tahunan yang dilakukan setiap tanggal 6 Mei di lepas pantai Bari.
p101420-orlando-mickey_very_merry_christmas_party
Gereja San Nicola, Bari, yang menyimpan tulang-belulang curian tersebut kini menjadi salah satu tempat ziarah paling favorit di Eropa. Menurut pakar sejarah teologi dari Universitas Oxford, Pendeta Alister McGrath, kepemilikan tulang-belulang St.Nicholas di beberapa gereja terkait dengan pemahaman bahwa kepemilikan benda-benda keramat erat kaitannya dengan doktrin kekuasaan gereja di abad pertengahan.
“Makin banyak benda keramat yang disimpan di suatu gereja, makin besar pula dominasi gereja tersebut di tengah banyaknya tempat ibadah. Ziarah mendatangkan bisnis dan kepemilikan benda-benda keramat dari orang suci menarik banyak turis,” kata McGrath.

Evolusi menjadi Sinterklas
Di Eropa hari wafatnya Santo Nicholas, 6 Desember, ditetapkan sebagai hari raya. Tradisi tersebut muncul berkat kebiasaan yang dilakukan para biarawati Prancis pada abad ke-12.
Diilhami dari kisah “tiga kantung emas” tersebut, pada malam hari raya Santo Nicholas para biarawati selalu membagikan hadiah kepada keluarga-keluarga miskin berupa kacang, jeruk, dan manisan yang dibungkus dalam kantung. Kebiasaan tersebut menyebar ke daerah-daerah di sekitar Prancis dan akhirnya menjadi tradisi di penjuru Eropa.
Namun pada abad ke-16, popularitas perayaan St. Nicholas mengundang kegundahan bagi kalangan rohaniwan gereja Protestan di Jerman dan Belanda yang meyakini bahwa tokoh yang sepatutnya disembah hanyalah Yesus Kristus.
santa-christmas-deers
Mulanya kalangan gereja sempat melarang masyarakat membawa dan membagikan manisan di hari raya St. Nicholas, seperti yang terjadi di Amsterdam. Namun larangan tersebut hanya mengakibatkan kemarahan dan pembangkangan dari masyarakat dan akhirnya tidak populer.
Tradisi perayaan St. Nicholas kemudian diperkenalkan para imigran Belanda di Amerika Serikat (AS). Namun di negeri Paman Sam itulah citra St. Nicholas secara bertahap “dipercantik” oleh para pujangga setempat dari sekadar orang baik dan suci menjadi seorang kakek sakti yang gemar berkelana.
Mula-mula seorang penulis bernama Washington Irving pada tahun 1809 mencitrakan St. Nicholas sebagai pelindung Kota New York yang berkelana dengan kuda. Pada tahun 1822, pujangga bernama Clement C. Moore melalui sajaknya A Visit from St. Nicholas berkhayal bahwa St. Nicholas mengendarai kereta yang ditarik rusa-rusa terbang untuk membawa hadiah kepada anak-anak baik melalui cerobong asap rumah.
Kemudian seorang kartunis bernama Thomas Nast dalam koran Harper’s Weekly pada tahun 1860 menggambarkan tampilan fisik St. Nicholas sebagai orang tua yang menghisap cerutu, berjanggut putih lebat, dan memakai ikat pinggang besar. Sejak saat itu St.Nicholas dirubah namanya menjadi Santa Claus atau Sinterklas.
santa-reindeerKartu natal yang menggambarkan Sinterklas memakai jubah merah sebenarnya pertama kali muncul pada tahun 1885. Namun pihak yang paling berperan memperkenalkan Sinterklas dengan tampilan seperti di atas adalah perusahaan minuman ringan, Coca- Cola.
Selama lebih dari 30 tahun berturut-turut sejak 1931, setiap kali menayangkan iklan bertema Natal, Coca-Cola sukses mempertahankan wujud Sinterklas sebagai kakek tambun berjanggut putih, periang, berkelana dengan kereta yang ditarik sekelompok rusa terbang sambil membawa hadiah untuk anak-anak. Karakter St. Nicholas yang bersahaja akhirnya tergantikan oleh Sinterklas yang lucu dengan tawanya yang khas ho..ho..ho..ho.
Tampilan Sinterklas yang periang dengan pipi tembam kemerah-merahan versi khayalan para pujangga Amerika dan Coca-Cola lebih menarik ketimbang perkiraan rupa asli St.Nicholas versi komputer yang terlihat menyedihkan dan tidak komersil. Namun yang jelas tampilan Sinterklas tersebut berhasil menggeser karakter asli St. Nicholas, seperti yang diungkapkan seorang pengusaha asal Turki, Sami Dundar, kepada harian The Wall Street Journal.
Bila St.Nicholas menjadi suri teladan bagi umat Kristiani, menurut Dundar, Sinterklas justru bukan mewakili agama manapun. “Dia adalah industri,” kata Dundar suatu ketika.

Penulis adalah seorang wartawan, tinggal di Birmingham xmas-wallpapers

Dongeng Jurig

Posted in Dongeng on 12/27/2008 by Muhammad Taufan

gantenginjrgdt0POÉ geus reup-reupan. Reketek Mang Linta mageuhan beulitan sarung dina cangkéngna. Awakna ngan dibungkus kaos oblong doang. Ka handapna calana komprang. Manéhna geus siap-siap rék muru ranggon pangancoanana di tengah kali. Sanggeus sagalana bérés mah léos mangkat bari ngajingjing korang.

Cai laut anu mimiti pasang mimiti ngarayap ka girang. Di beulah kulon layung kari sadalis. Geuleuyeung, Mang Linta nyorongkeun sampanna ka tengah kali, diwelah lalaunan. Teu lila ge nepi ka handapeun ranggon.
Sabot nalikeun sampanna kana tihang ranggon parantina, layung tilem dina poékna peuting.

Barang nyedek ka isa, poék mani meredong. Pantes bé da bulan kolot, manjing ka lilikuran. Jaba geus ti beurang kénéh teduh angkleung-angkleungan, kos geus deukeut ka usum hujan.

Di saung ranggonna, di tengah kali, Mang Linta nganco dicaangan ku lampu gantung nu caangna mérékététét. Pikirna, sugan peuting ieu mah loba hurang nu kabawa palid ku cai pasang. Bari memener tali ancoanana,
pangangguran manehna nelek-nelek ranggon-ranggon nu séjén. Katoong paroék. Aya gé ka beulah girangna, célak-célak. Ka marana nu ngaranco téh? Gerentes Mang Linta.

Geus tilu kali ngangkat, encan baé nyugemakeun haténa. Kalah hayoh wé boboso nu kasair ku ancona téh. Geus lima. Rada beulah kénca – okosna mah rada beulah sisi –kadéngé ku Mang Linta kos aya nu keur ngajala.
Manéhna ngintip tina sela-sela hateup ranggon. Enya bé, aya sampan nu keur ngajala, dicaangan ku lampu cempor nu dibawana. Ngan teuing saha-sahana mah, da ku Mang Linta jelemana ngan katempo belegbegna. Tetempoan Mang Linta mah aya duaan, kos awéwé jeung lalaki. Lalakina nu nébar-nébarkeun jalana, awéwéna mupulan beubeunanganana. Biasana mah nu sok duaan ngajala jeung pamajikanana mah Si Jaé. Kitu sangkaan Mang Linta téh.

Diitung-itung, sakitu geus sababaraha kali ngangkat, can aya nu mucekil baé. Bisa diitung ku ramo angkatan nu ayaan mah. Lolobana mah ngeplos deui ngeplos deui. Caina geus tiis deui kitu? Gerentes Mang Linta. Tapi
barang tungkul ka handap, kaciri kénéh nyéotna cai pasang téh ka girangkeun. Boborélakan. Ceuk itungan mah, tangéh kénéh kana surut. Didédéngékeun deuih ku Mang Linta téh, sugan aya kécépét-kécépét tenggak hurang. Bet euweuh pisan. Nu loba kadéngé mah kalah ka tenggak lauk, mani kukucibekan di ditu di dieu. Kos lauk galedé deuih tina sora tenggakna mah. Piuntungeun nu ngajala.

Mang Linta tungtungna mah lelenggutan, kateluh ku tunduh. Awakna ngajoprak, ngaréngkol dina palupuh ranggon. Tadi téh kuduna mah manéhna hanjat, tapi kapaksa nagen-nagenkeun manéh. Ari rék balik, korang pan kosong kénéh. Ceuk pikirna, boro-boro bisa setor keur urang dapur, keur ududna sorangan gé can tangtu mahi. Sugan rada peuting turunna hurang téh. Nu matak tuluy ku manéhna ditungguan, ngahagalkeun balik rada telat.

Di ranggon ancoan nu di girang téa, anu lampuna célak-célak, ayeuna mah geus pareum, tandaning geus euweuh nu nungguan. Boa kari manéhna anu masih nagen téh. Tungtungna mah Mang Linta kateluh ku tunduh. Ari hurang ager bé euweuhan.

Hiji mangsa Mang Linta ngulisik, kagandéngan ku sora kukucuprakan gigireun ranggonna. Manéhna gigisik. Lol ka luar, béntang timur geus lingsir ngétan. Piraku Si Jaé can hanjat mah, sakieu wayah geus deukeut ka janari leutik? Rét ka lampu gantung, geus pareum. Ku angin okosna mah. Ancoanana ngeueum kénéh, teu kaangkat-angkat da kasaréan.

Manéhna memener sila bari ngaringkebkeun deui sarungna kana awak, nutupan hawa tiris nu nyelesep. Lol deui, nolokeun sirahna tina lawang ranggon, hayang sidik ka sora nu kukucuprakan. Enya bé aya parahu, teu jauh ti ranggon ranggonna. Barang manéhna rék nyorowok, rék nanya saha-sahana nu di parahu, ari gujubar téh, sora aya barang beurat nu dijubarkeun ka cai. Mang Linta kerung, tuluy nyidik-nyidik deui. Ditenget-tenget téh, belegbeg parahu teu robah-robah ayeuna mah, kos nu dijangkarkeun. Rét manéhna ka handap, cai geus nyéot palid ka hilir. Ari parahu angger nagen, padahal diwelah gé henteu. Teu katempo aya gantar deuih. Okosna mah tadi nu ngagujubar téh enya sora jangkar nu dialungkeun ka kali.

Beuki heran baé Mang Linta téh. Sisinarieun aya nu paparahuan peuting-peuting bari jajangkaran sagala. Ilok nu rek ngajala atawa mancing mah? Sakieu wayah geus liwat tengah peuting. Kitu gerentes Mang Linta.
Sajongjongan mah, hayoh baé manéhna nelek-nelek p
arahu. Sugan enya nu rék ngajala. Jeung mun enya jelemana wawuh, rék digeroan.

Tapi ditutungguan téh, ti lebah parahu teu kadéngé sora-sora ranté jala. Boa nu mancing. Ah, enya meureun nu mancing, da katempo tina belegbegna mah kalah ka dariuk. Tapi teu lumrah deuih wayah kieu aya nu
mancing, komo di tengah mah, gerentesna deui. Biasana gé malem Minggu loba nu mancing mah. Kitu gé naragogna téh di sisi kali bae, atawa dina parahu nu dicangcangkeun di sisi muara. Langka anu ngahaja ka girang mah. Pan ayeuna mah karak malem ….. Mang Linta nginget-nginget poé. Juma’ah ayeuna téh. Enya Juma’ah. Aéh, naha aing poho-poho teuing, gerentes Mang Linta kos nu reuwas. Paingan batur-batur aing teu ngaranco, da malem Juma’ah, gerentesna deui. Tapi leuwih ngarénjag Mang Linta téh, barang ti lebah parahu nu buang jangkar téa, kadéngé sora awéwé nyikikik.

Aya kana saparapat jamna Mang Linta samar polah di jero ranggonna. Rék ngangkat ancoan, bébérés terus hanjat, sieun ngagareuwahkeun anu keur otél dina parahu. Hanjakal teu hanjat ti tatadi. Mun ti tatadi mah, waktu nu dina parahu karak jol ka dinya, moal éra atawa sieun kos ayeuna meureun mun rék hanjat téh. Ayeuna mah, sasat manéhna geus nyaksian jeung nyaho sagala rupana nu dipilampah ku awéwé jeung lalaki nu otél dina parahu téa. Atuh ari rék kaluar ti ranggon téh ayeuna mah jadi serba salah. Leuheung lamun ituna teu nanaon ka manéhna. Kumaha lamun malik nuding ngintip ka manéhna. Eta deuih, bet kabina-bina teuing nu di parahu téh, kos teu boga curiga nanaon. Parangsana aman bé meureun, da aya di tengah-tengah kali.

Tungtungna mah Mang Linta kalah ka ngahéphép baé di ranggon. Rék ngangkat ancoan gé teu wanieun, da ngeueum ti saméméh kapulesan. Panonna rét deui rét deui ka lebah parahu. Najan enya ukur reyem-reyem,
tapi tina sora jeung robah-robahna nu ngabelegbeg mah, kaciri pisan, keur naon nu di parahu téh. Wayah beuki nyedek ka janari. Hawa beuki nyecep kana kulit.

Tungtungna mah Mang Linta ngarasa kaluman. Cindeten baé téh matak ngeselkeun baé haténa. Pitunduheun gé ngadadak musna. Antukna manéhna mikir, rék néangan jalan sangkan aya alesan bisa ninggalkeun ranggon. Rét kana ancoan anu masih kénéh ngeueum. Rét deui kana parahu nu buang jangkar. Sora-sora nu matak géték kana ceulina, terus baé kadéngé. Mun aing téh bisa ngaleungit, gerentesna.

Ah, rék lah-lahan baé, gerentesna deui. Ceg kana gagang ancoan. Saméméh ancoan diangkat, manéhna narik napas heula, kos keur ngawahan. Bari ngarérét ku juru panonna ka lebah parahu, jurungkunung ancoanana
diangkat. Waringna dijungjungkeun ka luhur bari digibrig-gibrig. Séah caina nyurulung. Ti dinya mah manéhna teu wanieun deui nempo ka lebah parahu. Nagen bé sajongjongan mah, bari nahan gagang ancoan sina angger ngajungjung. Dadana mah gegebegan, bareng jeung ngerecekna sora cai nu masih nyurulung tina waring anco. Rét kana eusi anco, rada mondoyot. Ditelek-telek rada ayaan. Talina gancang dikenyang, ngarah eusi anco téh arasup kana bubu handapeunana. Kerud téh, gerentes Mang Linta, ari geus wayah kieu karak ayaan.

Karak saenggeus sora kerecek cai jempé, jeung saenggeus gagang anco ditanggeuhkeun, manéhna lalaunan ngalieuk ka lebah parahu. Puguh bé ngaranjug deui Mang Linta téh, lantaran parahu téh geus euweuh ti
tempatna. Horéng geus aya di hilir, rada jauh. Kos diwelah semu rusuh, muru muara.

Mang Linta ngarénghap. Salila-lila manéhna ngajentul baé, bari teu miduli hawa janari nu beuki nyecep.

“ABAH sia, hudang!” ceuk pamajikan Mang Linta, bari ngageubig-geubig awak salakina. Mang Linta teu gancang hudang. Kalah ka ahah-uhuh, bari angger peureum. “Yeuh, hudang! Penting!” pokna deui. “Peuting manéh balik jam sabaraha?” Mang Linta nguliat. Panonna karancam-keureunceum.
Pokna bari rada kerung, “Ku naon kitu?” “Itu batur ribut jurig!”
“Jurig naon?” Mang Linta beuki kerung. “Teuing! Pajar ranggon ancoan urang aya jurigan!” “Diandel teuing, Écih!” ceuk Mang Linta, kos horéam ngajawab, perbawa tunduh nu ngagayot kénéh dina panonna. Manéhna terus hudang, jarugjag-jarigjeug leumpang muru téko dina méja patengahan.

“Itu ceuk urang lélang,” témbal pamajikanana bari angger hariweusweus.
“Kumaha cenah?” ceuk Mang Linta bari angger kos nu horéam ngajawab.
“Ceuk Si Daud mah, Pa Mantri Pulisi nu manggihanana!” “Ah, siah!” curinghak ayeuna mah Mang Linta teh, mata bolotot kos manggih kerud. Panonna mencrong ka pamajikanana.

“Ih teu percaya mah tanyakeun ka ditu!” Bi Écih daria pisan. “Éta manéh jam sabaraha balik?” “Soré kénéh…,” Mang Linta ngabohong. “Cai surut gé aing mah terus balik. Meunang sabaraha on hurang téh?” “Sakilo satengah. Teu kurang teu leuwih!” “Uyuhan meunang gé…,” ceuk Mang Linta bari nyérang ka luar.

Pamajikanana terus baé tatanya. Panasaran okosna mah. Mang Linta mah angger, ngajawabna téh kos nu purun kos nu henteu. Lolobana mah dijawab saliwatan bae, ku ngawadul sawaréh mah. Nempo kitu mah, Bi Écih gé jadi boseneun sorangan.
“Malem naon peuting téh?” Mang Linta api-api. “Juma’ah!” témbal pamajikanana. “Pantes rék aya jurig gé!” ceuk Mang Linta bari ngagoloyoh ka luar.

Enya bé, barang ku Mang Linta dipapaykeun ka RT, nu manggihan jurig téh cenah Pa Mantri Pulisi. Lengkepna mah dongéng nu manggihan jurig téh kieu. Pa Mantri peuting éta ngersakeun mancing di kali. Malah cenah
hayang di tengah mancingna téh. Ka RT ménta disadiakeun parahu. Mancingna dibarengan ku upas kacamatan. Tah, waktu keur anteng mancing di tengah téa, ujug-ujug aya nu ngajurungkunung ti jero cai, di
ranggon ancoan nu teu jauh ti dinya.

Salila ngadéngékeun, reuwas aya hayang seuri aya Mang Linta téh. “Enyaan duaan jeung upas mancingna?” pokna ka RT. “Apan aing mah nyaksian pisan koloyongna?” témbal RT. “Naha RT teu milu maturan atuh?”
“Ngajakan mah ngajakan Pa Mantri téh,” ceuk RT bari ngabéléhém, “Tapi pan aing kudu ka nu kolot, Linta. Teu dikiliran mah meureun ngamuk…”

PEUTINGNA deui, cara sasarina, Mang Linta turun deui ka kali, rék nganco. Rét ka ranggon-ranggon ancoan nu séjén, angger paroék. Teuing mémang ngambeu galagat keur euweuh hurang, teuing kapangaruhan ku dongéng jurig peuting tadi. Nu écés, Mang Linta teu wanieun ieuh betus ka nu séjén ngeunaan kasaksiaanana peuting tadi. Mana komo barang nyaho mun nu dina parahu téh Pa Mantri Pulisi.

Cara peuting tadi, hurang téh euweuhan bae. Tapi Mang Linta teu putus harepan, terus bé nagen. Ras inget kana angkatan nu panungtungan peuting tadi, geuning rada mondoyot. Boa enya, hurang téh ayaanana ka
janarikeun, mun cai geus malik surut ka hilir. Sial, peuting tadi kasaréan.

Tengah peuting, geus kareureuwasan deui Mang Linta téh. Ti hilir aya deui parahu nu ngadeukeutan ranggonna. Malah ayeuna mah teu buang jangkar, tapi tuluy ka kolong ranggon. Teu lila gé nu ngawelahna
nyalukan. “Mang Linta…?” cenah, rada halon, sada awéwé.

Puguh bé Mang Linta téh ngadégdég. Bulu pundukna tingpuringkak. Beuki ratug baé dadana barang kadéngé aya nu nérékél naék kana ranggonna. Lol nu naék téh beungeutna kacaangan ku lampu gantung. Lipenna mani burahay.

“Dédéh…?” ceuk Mang Linta, barang mireungeuh nu datang téh pamajikan RT nu ngora. Dédéh kalah nyéréngéh. Mang Linta sawan kuya. “Rék naon manéh peuting-peuting kieu?”

“Beubeunangan tadi peuting?” témbal Dédéh, kalah malik nanya. “Kuatan, mani nepi ka subuh,” pokna deui, bari gék seselepét milu diuk dina ranggon. Pagégéyé. Mang Linta samar polah. Komo barang Dédéh némpélkeun biwirna kana ceulina bari ngaharéwos, “Ulah bébéja ka sasaha nya!” cenah.

Dongeng Malin Kundang dan Jaka Tarub

Posted in Dongeng on 12/27/2008 by Muhammad Taufan

extra-boss

Pak Asikin, seorang Guru SD yang kreatif namun pelupa, suatu saat mendongeng pada murid-muridnya. “Anak-anak… Di sebuah hutan di suatu masa ada pemuda yang suka berburu bernama Malin Kundang …” Seorang muridnya yang kritis, tahu kalau Pak Asikin keliru, sehingga ia menyela “Maaf, Pak… Pemburu itu “kan mestinya bernama…”

“Sssttt … Jangan memotong dulu … Kalau mau bertanya nanti saja …” sergah Pak Asikin. “Nah, saya teruskan ya … Suatu hari si Malin Kundang sedang berburu, dan di tengah hutan ada suatu telaga. Nah di tengah telaga itu dia melihat 7 bidadari sedang mandi … Dia pun mengintip ke-7 bidadari itu dari balik sebuah pohon besar”

Sementara murid-muridnya mulai senyam-senyum, sadarlah Pak Asikin bahwa ia keliru. Tapi ia terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya. Setelah berpikir sejenak, ia pun mendapat ide …

“Namun kemudian salah seorang bidadari terkejut melihatnya dan berseru : ‘Hei Malin Kundang, ngapain kamu di situ …Seharusnya kan Jaka Tarub yang ngintip kami di situ … ‘”

Kenapa Air Laut Asin

Posted in Dongeng on 12/27/2008 by Muhammad Taufan

Dongeng dari Korea

Beratus tahun yang lalu ada seorang raja yang memiliki batu penggiling ajaib. Batu ajaib itu bisa mengabulkan apa saja yang diminta oleh pemegangnya. Hanya tinggal mengatakan apa yang kita inginkan dan memutar batu penggiling ajaib itu maka apa yang kita minta pasti akan terkabul. Jika emas yang diminta, maka emas yang keluar, jika nasi yang diminta maka akan segera terhidang.

Seorang pencuri berencana untuk mencuri batu penggiling ajaib itu. Berhari-hari dia memikirkan cara mencurinya, namun rencananya selalu terlihat tidak bagus.

Suatu hari dia menyamar menjadi seorang pejabat dan mendatangi kantor para pelayan istana. Dia mengajak ketua mengobrol, lalu si pencuri berkata: “aku dengar raja mengubur sebuah batu penggiling ajaib karena dia selalu curiga dan tidak percaya pada para menterinya.”
“Hah, raja tidak percaya pada para menterinya? Kata siapa tuh?”
“Semua orang desa membicarakannya,” kata pencuri yang gembira karena pancingannya berhasil. “Katanya raja menggali lubang yang sangat dalam untuk menguburnya karena takut ada orang yang akan mencurinya.”
“Omong kosong!” kata ketua pelayan. “batu penggiling ajaib itu ada di samping bunga lotus di dalam taman istana.”
“Oh, benarkah?” kata si pencuri dengan berseri-seri.
“Tidak ada seorang pun yang berani mencurinya,” kata ketua pelayan, “orang gila mana yang mau mencurinya, sementara tempat itu selalu ramai orang berlalu-lalang.”

Si pencuri sangat gembira karena berhasil mendapatkan informasi berharga. Selama beberapa hari dia mempelajari situasi di dalam taman tempat batu penggiling ajaib itu berada. Hingga suatu malam yang gelap, si pencuri memanjat tembok istana dan mencuri batu penggiling ajaib tersebut.

Si pencuri sangat bangga dengan keberhasilannya, namun dia juga merasa takut. Jika raja menyadari bahwa batu penggiling ajaibnya telah hilang maka ia akan mengintrogasi semua penduduk dan ia akan tertangkap. Si pencuri lalu memutuskan untuk mencuri sebuah perahu untuk pulang ke kampung halamannya di seberang lautan. Beberapa saat setelah kapal yang dicurinya berlayar ke tengah laut dia mulai memikirkan apa yang akan dimintanya dari batu penggiling ajaib itu.

“Aku harus meminta sesuatu yang bisa membuatku menjadi kaya!” pikirnya.
“Garam!” teriaknya tiba-tiba, “Semua orang membutuhkan garam. Aku bisa menjualnya dengan harga mahal. Dan aku akan kaya!”

Maka dia mulai berlutut dan memutar batu penggiling tersebut sambil bergumam, “Garam! Garam! Beri aku garam!”

Dan dia mulai tertawa dan menari dengan gembira ketika dilihatnya butiran-butiran garam mengalir dari batu penggiling ajaib tersebut.

“Aku kaya!” teriaknya sambil terus bernyanyi dan menari.

Sementara penggiling batu itu terus berputar mengeluarkan butiran garam hingga memenuhi separuh kapal. Begitu si pencuri menyadarinya garam sudah hampir membuat kapal tenggelam. Dengan panik dia berusaha menghentikannya. Namun penggiling batu itu sudah tertimbun oleh gunungan garam, sehingga akhirnya kapal itu pun tenggelam bersama semua isinya. Hingga kini penggiling batu ajaib tersebut terus berputar dan terus menghasilkan garam karena tidak ada seorang pun yang berhasil menemukan dan menghentikannya. Itulah sebabnya sampai sekarang air laut selalu asin.

Anak Katak Hijau yang Nakal

Posted in Dongeng on 12/27/2008 by Muhammad Taufan

Dongeng dari Korea

Dahulu kala di sebuah kolam yan luas tinggalah seekor anak katak hijau dan ibunya. Anak katak tersebut sangat nakal dan tidak pernah mengindahkan kata-kata ibunya. Jika ibunya menyuruhnya ke gunung, dia akan pergi ke laut. Jika ibunya menyuruhnya pergi ke timur, dia akan pergi ke barat. Pokoknya apapun yang diperintahkan ibunya, dia akan melakukan yang sebaliknya.

“Apa yang harus kulalukan pada anak ini” pikir ibu katak. “Kenapa dia tidak seperti anak-anak katak lain yang selalu menuruti kata orang tua mereka.”

Suatu hari si ibu berkata, “Nak, jangan pergi keluar rumah karena di luar sedang hujan deras. Nanti kau hanyut terbawa arus.”

Belum selelsai ibunya berbicara, anak katak tersebut sudah melompat keluar sambil tertawa gembira,”hore…banjir aku akan bermain sepuasnya!”

Setiap hari ibu katak menasehati anaknya namun kelakuan anak katak itu bahkan semakin nakal saja. Hal itu membuat ibu katak murung dan sedih sehingga dia pun jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin parah.

Suatu hari ketika dia merasa tubuhnya semakin lemah, ibu katak memanggil anaknya,”Anakku, kurasa hidupku tidak akan lama lagi. Jika aku mati, jangan kuburkan aku di atas gunung, kuburkanlah aku di tepi sungai.”

Ibu katak sebenarnya ingin dikubur di atas gunung, namun karena anaknya selalu melakukan yang sebaliknya, maka dia pun berpesan yang sebaliknya.

Akhirnya ibu katak pun meninggal. Anak katak itu menangis dan menangis menyesali kelakuannya, “Ibuku yang malang. Kenapa aku tidak pernah mau mendengarkan kata-katanya. Sekarang dia telah tiada, aku sudah membunuhnya.”

Anak katak tersebut lalu teringat pesan terakhir ibunya. “Aku selalu melakukan apapun yang dilarang ibuku. Sekarang untuk menebus kesalahanku, aku akan melakukan apa yang dipesan oleh ibu dengan sebaik-baiknya.”

Maka anak katak itu menguburkan ibunya di tepi sungai.

Beberapa minggu kemudian hujan turun dengan lebatnya, sehingga air sungai dimana anak katak itu menguburkan ibunya meluap. Si anak katak begitu khawatir kuburan ibunya akan tersapu oleh air sungai. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sungai dan mengawasinya.

Di tengah hujan yang lebat dia menangis dan menangis. “Kwong-kwong-kwong. Wahai sungai jangan bawa ibuku pergi!”

Dan anak katak hijau itu akan selalu pergi ke sungai dan menagis setiap hujan datang. Sejak itulah kenapa sampai saat ini kita selalu mendengar katak hijau menangis setiap hujan turun.

Kasuari dan Dara Mahkota

Posted in Dongeng on 12/27/2008 by Muhammad Taufan

Dongeng dari Papua

Dahulu kala burung kasuari tidak seperti yang kita kenal saat ini. Dia memiliki sayap yang lebar dan kuat sehingga ia bisa mencari makan di atas pohon yang tinggi tapi juga bisa dengan mudah mencari makan di atas tanah. Kelebihannya ini membuat Kasuari menjadi burung yang sombong. Dia sering berbuat curang saat berebut makanan dan tidak peduli jika teman-temannya yang lain kelaparan gara-gara dia. Sayapnya yang lebar biasa dia gunakan untuk menyembunyikan buah-buahan ranum di atas pohon, sehingga burung-burung lainnya tidak bisa melihatnya. Atau dengan sengaja dia menjatuhkan buah-buahan ranum itu ke tanah sehingga Cuma ia sendiri yang bisa menikmatinya. “Biar saja!” pikirnya, “Salah sendiri kenapa mereka punya sayap yang pendek dan badan yang kecil. Siapa cepat dia yang dapat.”

Tentu saja kesombongannya tidak disukai burung-burung lainnya. Mereka menganggap Kasuari sudah keterlaluan dan keangkuhannya harus segera dihentikan. Akhirnya para burung berkumpul untuk membahas masalah ini. Setelah berbagai cara diajukan akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan perlombaan terbang. Namun ternyata sulit menemukan lawan yang sebanding dengan Kasuari. Tiba-tiba burung Dara Mahkota mengajukan diri untuk bertanding terbang dengan Kasuari. Meskipun banyak yang meragukan kemampuannya karena Dara Mahkota hanyalah burung kecil, tapi Dara Mahkota meyakinkan mereka bahwa dia mampu.

Mereka lalu mengirimkan tantangan tersebut kepada Kasuari. Kasuari yang sangat yakin dengan kemampuannya langsung menyanggupi tantangan tersebut tanpa repot-repot bertanya siapa lawannya.
“Pertandingannya akan diadakan minggu depan dan akan disaksikan semua warga burung!” kata burung pipit. “Yang bisa terbang paling jauh dan lama yang menang.”
“Ya ampun…kalo begitu pasti aku yang menang. Di hutan ini tidak ada yang memiliki sayap selebar dan sekuat punyaku. Jadi pasti aku yang menang,” kata Kasuari pongah. “Tapi baiklah aku terima tantangannya, lumayan buat olahrga!”
Burung pipit sebal mendengar jawaban Kasuari, tapi dia tahan emosinya. “Tapi ada ketentuannya. Sebelum bertanding, peserta boleh saling mematahkan sayap lawannya,” kata pipit. Kasuari pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu.

Seminggu kemudian, warga burung berkumpul untuk meyaksikan pertandingan terbang tersebut. Meski tidak terlalu yakin, mereka semua berharap Dara Mahkota akan memenangkan pertandingan tersebut. Diam-diam Dara Mahkota menyisipkan sebilah ranting di balik sayapnya. Kasuari yang baru mengetahui lawannya tertawa terbahak-bahak, “ini lawanku?” katanya sambil tertawa, “mimpi kali kamu ye…? Hei…burung kecil, sayapmu pendek mana bisa menang melawanku!”. Burng-burung kecil lainnya sebal menyaksikan tingkah Kasuari sementara Dara Mahkota hanya tersenyum menanggapinya.

Kini mereka siap bertanding. Kasuari maju untuk mematahkan sayap Dara Mahkota. KREK! Terdengar bunyi sayap patah. Dara Mahkota pura-pura menjerit kesakitan. Padahal sebenarnya bunyi tadi berasal dari ranting kering di bawah sayap Dara Mahkota yang patah. Kini giliran Dara Mahkota yang akan mematahkan sayap Kasuari. Dengan sekuat tenaga dia menekuk sayap Kasuari hingga terdengar bunyi KREKK yang keras. Kasuari menjerit kesakitan. Sayap Kasuari yang patah tergantung lemas. Tapi Kasuari yang sombong tetap yakin dirinya akan menang.

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Sekarang mereka sudah siap untuk bertanding. Ketika aba-aba dibunyikan, Dara Mahkota dengan ringan melesat ke udara. Sayapnya mengepak dengan mudah membawa tubuhnya yang mungil terbang ke angkasa. Kasuari terkejut dan heran karena tadi dia mengira sayap Dara Mahkota telah patah. Dengan panik dia mencoba mengepakan sayapnya dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas. Tapi bukannya terbang tinggi, tubuhnya malah meluncur ke bawah dan jatuh berdebum di tanah. Semua burung bersorak senang sementara Kasuari terkulai lemas. Dengan perasaan malu dia meninggalkan tempat itu. Sejak saat itu Kasuari tidak pernah bisa terbang. Sayapnya yang dulu lebar dan kuat kini memendek karena sudah patah. Kini meski dia disebut burung namun dia hanya bisa berjalan dan mencari makan di tanah seperti binatang lain yang tidak memiliki sayap.

Cerita Bintang

Posted in Dongeng on 12/27/2008 by Muhammad Taufan

Karya Grimm Bersaudara

Pernah suatu kali ada seorang gadis kecil yang sudah yatim piatu. Dia begitu miskin sehingga tidak punya rumah yang bisa ditinggalinya, tidak ada tempat tidur tempat dia bisa melepaskan penat, yang tertinggal di dirinya hanyalah sebuah baju yang kini dipakainya dan sedikit roti untuk mengganjal perutnya.

Meski sangat miskin, tapi dia adalah gadis yang sangat baik hati dan pemurah. Karena tidak ada sanak saudara yang bisa dimintai tolong, maka dia menyerahkan nasibnya di tangan Tuhan.

Suatu hari dia berjumpa dengan seorang gelandangan tua yang kelaparan.
“Nak, berilah saya makanan! Saya kelaparan!” katanya.
Gadis itu memberikan semua roti yang dimilikinya dan berkata: “Semoga makanan ini bermanfaat!” lalu melanjutkan langkahnya.

Tidak berapa jauh dari situ, dia melihat seorang anak sedang terisak.
“Kepalaku kedinginan. Berilah aku sesuatu untuk menghangatkannya,” katanya.
Gadis yang baik itu memberikan topinya tanpa ragu-ragu.

Beberapa langkah dari situ, seorang anak menggigil di tengah cuaca dingin dan hampir jatuh pingsan, maka gadis itu memberikan jaketnya dan membiarkan tubuhnya sendiri menggigil kedinginan.

Lalu seorang anak di ujung jalan memintanya memberikan rok yang dipakainya untuk membungkus badannya. Dan gadis pemurah itu memberikannya tanpa pikir panjang.

Sore pun tiba. Matahari sudah hampir tenggelam ketika si gadis tiba di sebuah hutan kecil dan seorang anak kecil meminta baju yang dipakainya. Gadis itu berpikir: “Malam akan segera datang dan aku akan berada di dalam hutan yang gelap. Jika aku telanjang pun tidak akan ada orang yang melihatnya.” Maka dengan senang hati dia memberikan bajunya.

Kini tidak ada selembar benang pun yang melekat di badan gadis itu. Di dalam hutan yang lebat dan di tengah malam yang gelap, gadis itu memeluk dirinya sendiri untuk mengusir dingin.

Tuhan yang Maha Baik menunjuk beberapa bintang di langit untuk turun ke bumi dan menyelimuti gadis itu dengan cahayanya. Cahaya bintang itu berubah menjadi pakaian yang indah. Lalu bintang-bintang itu berubah menjadi kepingan emas dan gadis kecil itu menyelipkan kepingan emas tersebut di baju barunya.

Kini gadis yang baik hati itu, memiliki kepingan emas untuk bekal hidupnya.